Kamis, 10 Agustus 2017

Inspring Story


 


Sutan Syahrir Story


Sutan Syahrir lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Tahun 1926 Sutan Syahrir masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung yang pada waktu itu adalah sekolah termahal di Indonesia dan di sekolah itu Ia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia.


Di himpunan itu ia pernah menjadi Penulis Sekenario, Sutradara dan menjadi Aktor.
Hasil dari Teater tersebut Ia pakai untuk membiayai sekolah yang Ia didirikan untuk rakyat yang kurang mampu.

Sutan Syahrir pernah bersekolah ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam untuk lebih belajar sosialisme.
Demi mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Sutan Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.

Ia juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia yang ketika itu di pimpin Mohammad Hatta. Juni 1932 Sutan Syahrir menjadi ketua PNI Baru dan pada bulan Agustus 1932 Sutan Syahrir di bantu Mohammad Hatta dalam memimpin PNI Baru.

Karena takut akan potensi Revolusioner PNI Baru, pada bulan Februari 1934 Belanda menangkap, memenjarakan dan membuang Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven-Digoel Irian Jaya dan dipindah ke Bandaneira (Pulau Banda).

Menurut saya dia adalah seorang pemimpin yang paling berani di zaman pendudukan Jepang. Setelah berita kekalahan Jepang beredar, Syahrir ialah seorang yang paling keras mendesak Soekarna dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.

Ia adalah salah seorang pemimpin bawah tanah di zaman pendudukan Jepang yang berani mendengarkan siaran radio Sekutu adalah Sutan Syahrir. Padahal, nyawa bisa jadi taruhan karena ada larangan keras mendengarkan siaran radio. Dalam lemari di kamarnya tersimpan radio yang memantau berita kemenangan Sekutu, termasuk penyerahan Jepang. Berita itu biasanya diteruskan Syahrir kepada Bung Hatta.

Hikmah dari kisah di atas adalah sesosok pahlawan kemerdekaan yg aktif dalam berorganisasi, cerdas dalam bertindak dan berani walaupun nyawa taruhanya. Kita sebagai generasi muda patut mencontoh beliau karena kita sebagai generasi muda yang akan menjadi para penerus bangsa.


0 komentar:

Posting Komentar